Jumat, 18 Maret 2011

TENTANG BLOG INI

Crop livestock systems adalah terminologi umum yang menunjukkan adanya beragam sistem interaksi antara tanaman dan ternak ruminansia. Terminologi itu digunakan sebagai nama blog ini untuk memayungi penyampaian semua informasi dan atau pemikiran ilmiah tentang tanaman pakan, ternak ruminansia dan interaksinya. Informasi dan pemikiran itu dapat bersifat dasar maupun praktis dengan mengacu pada kondisi riil Indonesia. Hal tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi pada pembangunan peternakan ruminansia di bumi pertiwi yang menyimpan jutaan potensi pangan untuk kesejahteraan penduduknya.

1. Peternakan rakyat ruminansia
Sistem pertanian di Indonesia dikaruniai dengan hewan ruminansia yaitu sapi, kerbau, kambing dan domba. Data dari Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian Republik Indonesia menunjukkan bahwa pada tahun 2009 jumlah sapi potong di Indonesia adalah 12.603.000 ekor, sapi perah 487.000 ekor, kerbau 2.046.000 ekor, kambing 15.656.000 ekor dan domba 10.472.000 ekor. Contoh dari jenis-jenis ruminansia di Indonesia dapat dilihat dari deretan foto pada Gambar 1.1.



Gambar 1.1. Sebagian dari jenis-jenis ruminansia di Indonesia [1] sapi perah Peranakan Frisien Holstein [2] sapi Bali jantan [3] sapi Peranakan Ongole betina [4] kambing Ettawa [5] domba ekor gemuk [6] kerbau [7] kambing Jawa Randu [8] sapi Madura betina [9] domba Bligon

Jenis-jenis ruminansia diatas dipelihara oleh kelompok masyarakat yang disebut peternak untuk diambil manfaatnya. Sebagian besar peternak itu juga membudidayakan tanaman pangan dan/atau tanaman industri sehingga mereka kiranya lebih sesuai disebut dengan petani-ternak. Hal ini mengingat bahwa sebutan petani, umumnya diasosiasikan sebagai anggota kelompok masyarakat yang melakukan kegiatan budidaya tanaman saja.

Sekitar sembilan puluh persen populasi ruminansia di Indonesia dibudidayakan oleh petani-ternak yang tersebar hampir di semua desa di Indonesia. Ruminansia yang dipelihara per petani-ternak dapat hanya terdiri dari satu jenis saja atau lebih dari satu jenis. Adapun jumlah tiap jenis ruminansia yang dipelihara per petani-ternak relatif sedikit. Misalnya untuk sapi, berkisar antara satu sampai empat ekor per peternak. Kelompok petani-ternak semacam ini dikenal dengan sebutan peternakan rakyat. Kelompok ini merupakan produsen ruminansia terbesar di Indonesia karena mengelola sekitar sembilan puluh persen populasi ruminansia di Indonesia. Hanya sekitar sepuluh persen populasi ruminansia di Indonesia dibudidayakan oleh peternakan semi-komersial dan komersial.

Pola pemeliharaan ruminansia pada peternakan rakyat ini berbeda dengan pola pemeliharaan yang dilakukan di peternakan semi-komersial ataupun komersial. Khususnya dalam hal pemberian pakan pada peternakan komersial atau semi-komersial terdapat karakteristik bahwa sebagian atau semua bahan pakan untuk ruminansia yang dipelihara didapatkan dengan cara membeli. Adapun pada peternakan rakyat, pakan yang diberikan pada ruminansia diperoleh tanpa melakukan pembelian. Peternakan rakyat memanfaatkan sumberdaya pakan yang ada disekitar mereka dengan cara mengambilnya kemudian diberikan kepada ternak ruminansia yang mereka pelihara di rumah. Mengacu pada hal ini maka kelestarian peternakan rakyat adalah bergantung pada produktivitas dan kelestarian sumberdaya pakan ternak yang tersedia disekitar rumah yang dapat diakses oleh para petani-ternak secara bebas.

2. Produk ruminansia
Bagaimana petani-ternak mendapatkan pakan untuk ternaknya, jenis-jenis pakan apa saja yang diberikan pada ruminansia serta problematik pengadaannya seringkali tidak dikenal oleh masyarakat luas. Padahal, kerja keras petani petani-ternak pemelihara ruminansia dalam sistem peternakan rakyat pada saat ini telah memberikan sumbangan sebesar sekitar 30 persen susu dan sekitar 60 persen daging yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia secara luas.

Umumnya masyarakat luas mengetahui bahwa daging dan susu yang mereka konsumsi berasal dari jenis-jenis ternak ruminansia. Berbagai jenis masakan lezat Indonesia menggunakan daging sapi, kambing, domba dan kerbau. Satai, gulai, rendang dan empal hanyalah sebagian kecil dari beragam jenis masakan kegemaran masyarakat Indonesia yang berbasis dari produk ternak ruminansia. Pada akhir-akhir ini, di kota-kota besar mulai banyak bertebaran restoran besar dan kecil yang menawarkan steak daging sapi dan ramai dikunjungi konsumen kelas ekonomi menengah hingga keatas. Produk ruminansia lainnya, yaitu susu serta berbagai macam olahannya seperti misalnya es krim, yoghurt serta susu pasteurisasi juga disukai oleh masyarakat luas. Akhir-akhir ini air susu kambing Peranakan Ettawa juga semakin diminati meskipun harganya beberapa kali lipat lebih mahal daripada harga air susu sapi. Khususnya anak-anak dibawah lima tahun (balita), walaupun banyak juga yang bergantung pada Air Susu Ibu (ASI) namun tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar balita mengkonsumsi air susu sapi segar atau susu bubuk hasil olahan air susu sapi perah.

Sejalan dengan meningkatnya pendapatan masyarakat, pengetahuan tentang pangan yang sehat bermutu serta bertambahnya jumlah penduduk maka permintaan bangsa Indonesia terhadap daging dan susu juga semakin meningkat. Untuk mencukupi permintaan itu maka saat ini bangsa Indonesia harus melakukan impor daging dan susu karena produksi dua komoditi itu dari dalam negeri masih kurang. Menanggapi kondisi itu, pemerintah berupaya meningkatkan produksi susu dan daging dalam negeri sebagai bagian dari program revitalisasi pertanian yang dicanangkan sejak tahun 2004. Target utama dari beragam kegiatan yang dilakukan adalah mencapai swasembada daging. Untuk mencapai itu, bangsa Indonesia tidak dapat menghindar dari pilihan yaitu meningkatkan produksi per individu ternak ruminansia serta meningkatkan jumlah ternak ruminansia yang dimilikinya. Pilihan-pilihan itu pada dasarnya menuntut manajemen peternakan rakyat, semi-komersial maupun komersial untuk berbenah kearah peningkatan produksi ternak ruminansia yang lebih baik. Khususnya dalam hal pembenahan manajemen pakan sebagai input pokok produksi ruminansia maka dituntut terwujudnya pengadaan pakan hijauan yang kontinyu secara kuantitatif maupun kualitatif.

3. Tanaman sebagai input produksi ruminansia
Tanpa pasokan biomasa tanaman pakan (atau umum disebut hijauan pakan ternak atau hijauan) yang kontinyu maka produksi ternak ruminansia tidak akan terjamin kelestariannya. Daging, susu serta beragam jenis pangan hasil olahannya pada dasarnya diperoleh dari kemampuan ruminansia mengkonversi pakan hijauan berserat kasar tinggi seperti rumput-rumputan, daun-daunan serta limbah pertanian misalnya jerami padi, pucuk tebu dan tebon jagung. Jenis-jenis hijauan seperti rumput yang tidak dapat dikonsumsi manusia itu merupakan pakan pokok ruminansia (lihat Gambar 1.2.). Pakan itu kemudian diubah oleh ruminansia menjadi daging dan/atau susu yang bernilai ekonomi tinggi, bermutu gizi tinggi dan bermanfaat untuk kesehatan manusia.


Gambar 1.2. Sapi Bali di Sulawesi Tenggara yang sedang menikmati pakan pokoknya yaitu rumput yang tersedia di padang rumput alam



Ternak ruminansia memang berbeda dari jenis ternak lainnya karena mampu mengkonsumsi, mencerna dan memanfaatkan zat makanan dan energi dari hijauan yang berserat kasar tinggi untuk hidup dan berproduksi. Ilmu pengetahuan menjelaskan bahwa kemampuan itu didukung oleh adanya perut depan yang besar dan berfungsi spesifik. Perut depan itu disebut rumen yang mampu menampung hijauan dalam jumlah banyak, ideal sebagai tempat hidup berbagai jenis mikroba (bakteri dan protozoa) bersifat an-aerob yang dapat mencerna hijauan dalam rumen dan rumen dapat mengembalikan hijauan yang sudah ditampungnya ke mulut untuk dikunyah lagi (dalam bahasa jawa disebut nggayemi). Kemampuan ruminansia mengembalikan hijauan dari rumen ke mulut untuk dikunyah (regugitasi) membuat hijauan semakin remah sehingga saat hijauan kembali lagi ke rumen akan dapat lebih mudah dicernakan oleh mikroba. Bakteri selulitik dapat mencerna cellulose hijauan berserat kasar tinggi secara fermentatif dan menghasilkan berbagai jenis asam organik, terutama asam asetat, propionat dan butirat. Asam-asam ini adalah bahan sumber energi yang dapat digunakan bakteri untuk tumbuh dan berkembang-biak. Disamping itu, apabila teserap darah maka asam-asam itu akan berperan sebagai bahan prekusor untuk sintesis air susu dan/atau daging. Adapun populasi bakteri yang berkembang dalam rumen akan terikut aliran cairan rumen ke saluran-saluran pencernakan setelah rumen. Apabila mencapai usus maka bakteri yang terbawa cairan rumen akan dicerna secara ensimatis dan menghasilkan asam-asam amino yang kemudian diserap darah dan dialirkan ke seluruh tubuh untuk dimanfaatkan oleh organ-organ ruminansia bagi pertumbuhan dan produksinya. Berdasarkan mekanisme itu dapat disimpulkan bahwa protein yang diperlukan ruminansia kecuali berasal dari pakannya juga diperoleh secara alamiah dari populasi bakteri yang berkembang dalam rumennya. Keadaan itu membuat ruminansia, secara alamiah, membutuhkan relatif lebih sedikit protein dalam pakannya dibandingkan jenis-jenis hewan lainnya. Oleh sebab itu, tidak seperti hewan-hewan monogastrik, ruminansia secara alamiah dapat hidup (tumbuh dan ber-reproduksi) hanya dengan mengkonsumsi rumput-rumputan yang proteinnya relatif rendah.

Rumput dan ruminansia telah ditakdirkan sebagai dua sisi mata uang logam yang tidak dapat dipisahkan. Pada bagian dunia yang maju peternakan ruminansianya, pemandangan sapi merumput di padang rumput (grazing) adalah hal yang biasa dijumpai sebagai bagian dari landskap kawasan pedesaan. Hal seperti itu juga dapat dijumpai di Indonesia yaitu di kawasan-kawasan dimana pemeliharaan ruminansia dilakukan secara ekstensip seperti di Nusa Tenggara Barat, Papua atau Sulawesi (lihat Gambar 1.3.). Sedangkan pada daerah-daerah dengan sistem pemeliharaan ternak yang intensip seperti di Jawa dan Bali, umumnya ternak sapi, kerbau, kambing dan domba dikandangkan disekitar rumah petani-ternak. Pakannya dicarikan oleh petani-ternak pemelihara dari berbagai sumber yang dapat diaksesnya untuk kemudian diberikan kepada ternak di kandang. Pola pemberian pakan semacam ini, secara teknis disebut dengan tebas-angkut (cut and carry) atau zero grazing. Pemandangan berupa pencari hijauan yang membawa pulang hijauan dapat dijumpai secara ekstensif pada kawasan yang didominasi pola pemberian pakan secara cut and carry (lihat Gambar 1.3.). Pada pola ini, jenis pakan hijauan yang diberikan kepada ternak ruminansia beragam meliputi rumput-rumputan, daun-daunan tanaman semak atau pohon dan juga limbah pertanian seperti jerami padi.

Gambar 1.3. Pemandangan sapi yang merumput pada padang rumput di Sulawesi Tenggara dan kerbau yang sedang merumput di pulau Lombok bersama dengan pemandangan pencari hijauan pakan ternak yang sedang membawa pulang hijauan yang diperolehnya untuk diberikan kepada sapi yang dipeliharanya di daerah Pasuruan dan Kabupaten Sumenep.

Memperhatikan uraian diatas, kiranya dapat dipahami bahwa pemeliharaan ternak ruminansia adalah aktifitas yang berbasis pada lahan (land based activity). Lahan dibutuhkan sebagai tempat produksi dan juga sebagai basis produksi hijauan untuk pakan. Sebagai produk primer lahan maka hijauan dapat beragam dalam hal jenis, nilai nutrisinya, produktivitasnya dan waktu ketersediaanya. Keragaman itu bergantung pada kesuburan lahannya serta faktor-faktor iklim. Oleh sebab itu, manajemen terhadap lahan sebagai sumberdaya hijauan harus dilakukan dengan sebaik-baiknya untuk menjamin kontinyitas tersedianya hijauan sebagai input utama tujuan pemeliharaan ruminansia. Untuk merealisasikan hal tersebut tentunya dibutuhkan sumberdaya manusia yang mempunyai pengetahuan serta ketrampilan yang cukup untuk mengelola sumberdaya hijauan pakan ternak.

4. Ilmu pengetahuan tentang hijauan
Sejak budaya manusia berubah dari berburu ke beternak maka pertanyaan tentang bahan-bahan pakan apa yang baik untuk ternak yang mereka pelihara kiranya mulai berkembang. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti itu kemudian terakumulasi menjadi pengetahuan yang diturunkan antar generasi pemelihara ternak. Disisi lain, didukung oleh perkembangan ilmu pengetahuan dasar seperti biologi, kimia, fisika dan matematika maka secara akademik pengetahuan tentang hijauan juga berkembang. Ilmu-ilmu pengetahuan tentang agronomi, manajemen produksi, manajemen pemanfaatan dan konservasi jenis-jenis hijauan pakan ternak untuk ruminansia mempunyai beragam label seperti misalnya Pasture Science, Grassland Science, Forage Science dan Agrostolgy. Ilmu-ilmu tersebut umumnya menjadi konsumsi ilmuwan, peneliti dan mahasiswa yang bermanfaat untuk pengembangan profesi dan pengabdian mereka dalam bidang pembangunan peternakan ruminansia maupun keberlanjutan kelestarian lingkungan hidup. Sebenarnya ilmu tersebut diharapkan dapat diketahui pula oleh masyarakat luas serta penentu kebijakan. Berbekal pengetahuan itu maka pembuatan kebijakan dalam bidang pengadaan pakan hijauan dapat dilakukan dengan lebih baik dan kearifan masyarakat luas dalam menghadapi persoalan pembangunan peternakan berbasis sumberdaya alam nasional dapat semakin matang.

Pada kenyataannya, ilmu pengetahuan tentang hijauan pakan ternak umumnya terdokumentasi dalam buku-buku dan jurnal-jurnal berbahasa Inggris. Hal itu dikarenakan bahwa ilmu pengetahuan tentang hijauan pakan ternak lebih banyak berkembang dinegara-negara barat dimana produk ternak ruminansia seperti daging dan susu dapat dianggap sebagai bagian dari makanan pokok masyarakatnya. Cukup tersedianya dana untuk riset turut berkontribusi terhadap kemajuan ilmu pengetahuan tentang hijauan pakan ruminansia di negara-negara barat. Walaupun berkembang dinegara-negara barat, sebagai suatu ilmu maka pengetahuan tentang hijauan pakan ruminansia dapat diakses oleh siapapun tanpa batas geografis. Namun tentu saja penguasaan bahasa Inggris yang baik menjadi tuntutan utama. Pengalaman lapang menunjukkan bahwa penguasaan bahasa Inggris yang lemah menjadi kendala utama pengajaran ilmu hijauan pakan ternak di negara-negara dengan bahasa ibu bukan Inggris, seperti di Indonesia. Menghadapi kenyataan itu maka akses masyarakat luas terhadap pengetahuan tentang pakan hijauan akan menjadi lebih baik jika tersedia dalam bahasa ibu; terlebih lagi jika materi yang disampaikan dapat dikaitkan dengan kondisi setempat.

5. Tujuan pembuatan blog
Blog ini dibuat dengan tujuan untuk memperkaya ketersediaan materi tentang hijauan pakan ternak yang dapat diakses dan menambah wawasan mereka yang berminat pada bidang hijauan pakan ternak. Mereka dapat dari kelompok petani-ternak, mahasiswa, dosen, peneliti, pemangku kebijakan atau pemerhati perkembangan pakan hijauan dan ruminansia di Indonesia. Informasi tentang jenis-jenis padang rumput dan perspektif sejarahnya hingga prinsip-prinsip produksi hijauan pakan ternak serta cara evaluasinya dapat diikuti dalam blog ini. Sejauh mungkin informasi-informasi tersebut diupayakan agar relevan dengan sistem peternakan ruminansia di Indonesia dan dikemas pada blog crop livestock systems ini. Kemasan ini diharapkan dapat menjadi sumber inspirasi dan/atau memberikan tambahan pengetahuan yang dapat diramu secara cerdik dengan ilmu-ilmu pengetahuan lain untuk meningkatkan produktivitas sistem produksi ruminansia di Indonesia.

1 komentar:

  1. Ijin promo yah gan...Mari Bergabung Dengan Website itudewa Situs judi online yang memberikan BONUS

    DEPOSIT NEW MEMBER 10% Untuk Semua Member BARU SETIAP HARINYA. MINIMAL Deposit Rp.25.000 dan

    Withdraw Rp.50.000
    -Bonus referral sebesar 20% seumur hidup
    -Bonus Ajak Teman Kamu Bermain Refferensi S/D 100ribu
    -Bonus GEBYAR TURNOVER TERBANYAK MENDAPATKAN HADIAH UTAMA 100JT
    -Bonus Rollingan 0,3
    -Bonus New Member 10%

    Akses ke 8 Game Hanya dengan 1 ID
    IKUTI TURNAMEN POKER ONLINE SEASON 2 BERHADIAH 1 MILIYAR RUPIAH HANYA DI ITUDEWA BACA SELENKAPNYA


    Tunggu apalagi ayo segera GABUNG di ITUDEWA
    LINK DAFTAR

    HubungiKontak Kami :
    Line : ituDewa
    Telegram : +85561809401
    WhatsApp : +85561809401
    WeChat : OfficialituDewa
    Live Chat : ituDewa Live Chat

    BalasHapus